Fenomena Sinkhole di Situjuah: Guru Besar UNAND Ungkap Penyebab dan Risiko Geologisnya

Fenomena tanah amblas atau sinkhole yang terjadi di wilayah pertanian Nagari Situjuah Batua, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat, menjadi perhatian serius masyarakat dan kalangan akademisi. Lubang besar yang awalnya hanya berupa cekungan kecil itu kini melebar hingga sekitar 7 meter dengan kedalaman mencapai 5 meter, menimbulkan kekhawatiran terhadap keselamatan lahan pertanian dan lingkungan sekitar.

Guru Besar Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Andalas (UNAND), Prof. Dian Fiantis, menjelaskan bahwa fenomena sinkhole tersebut merupakan proses geologi alamiah yang dipicu oleh kondisi tanah dan lingkungan setempat. Meski selama ini sinkhole lebih sering dikaitkan dengan wilayah karst atau batu gamping, kejadian serupa juga dapat muncul di kawasan tanah vulkanis, seperti di lereng Gunung Sago.

### Proses Terbentuknya Sinkhole

Menurut Prof. Dian, tanah di wilayah tersebut tersusun dari material vulkanis seperti abu vulkanik, tuf, dan breksi yang memiliki tingkat porositas tinggi. Kondisi ini memungkinkan air hujan meresap dengan cepat ke dalam tanah. Aliran air bawah permukaan kemudian secara perlahan mengikis partikel-partikel halus, membentuk rongga di bawah tanah melalui proses yang dikenal sebagai piping.

Seiring waktu, rongga tersebut membesar dan lapisan tanah di atasnya kehilangan daya dukung. Ketika beban tanah tidak lagi mampu ditahan, permukaan pun runtuh secara tiba-tiba dan membentuk sinkhole. Proses ini umumnya dipercepat oleh curah hujan tinggi dalam waktu lama, seperti yang kerap terjadi di wilayah Sumatera Barat.

### Faktor Risiko di Sumatera Barat

Sumatera Barat secara geologis memiliki tingkat kerentanan yang cukup tinggi terhadap fenomena ini. Kombinasi topografi perbukitan curam, struktur geologi kompleks, serta intensitas hujan yang tinggi menjadikan beberapa wilayah rawan terhadap tanah amblas, longsor, dan gangguan sistem air bawah tanah.

Keberadaan sinkhole di area pertanian tidak hanya berdampak pada kerusakan lahan, tetapi juga berpotensi mengganggu sumber air tanah serta mengancam keselamatan masyarakat jika terjadi di dekat permukiman atau infrastruktur publik.

### Pentingnya Deteksi Dini dan Mitigasi

Prof. Dian menekankan bahwa langkah pencegahan dan mitigasi jauh lebih penting dibandingkan penanganan pascakejadian. Ia menyarankan penerapan teknologi deteksi dini, seperti metode geolistrik, radar tembus tanah (ground penetrating radar), serta pemetaan geologi detail, untuk mengidentifikasi potensi rongga bawah tanah sebelum runtuhan terjadi.

Selain itu, koordinasi antara pemerintah daerah, akademisi, dan masyarakat sangat diperlukan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap tanda-tanda awal sinkhole, seperti retakan tanah, perubahan aliran air, atau penurunan permukaan tanah secara perlahan.

### Fenomena Alam yang Perlu Diantisipasi

Fenomena sinkhole di Situjuah Batua menjadi pengingat bahwa proses alam dapat terjadi kapan saja, terutama di wilayah dengan kondisi geologi yang dinamis. Dengan pendekatan berbasis ilmu pengetahuan, perencanaan tata ruang yang baik, serta peningkatan kesadaran masyarakat, risiko dan dampak dari fenomena ini dapat diminimalkan.

Universitas Andalas melalui para pakarnya terus mendorong pemahaman ilmiah dan edukasi publik agar kejadian serupa tidak hanya menjadi peristiwa viral, tetapi juga menjadi bahan pembelajaran penting dalam pengelolaan lingkungan dan mitigasi bencana ke depan.

administrator

RECENT POSTS

CATEGORIES

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?