Sebelum dikenal sebagai presiden amerika serikat, Trump terlebih dahulu dikenal sebagai seorang pengusaha, dan juga pengelola sejumlah property, dilansir pada hahalaman Britannica Trump diketahui memiliki usaha dalam real estat, hotel, kasino dan lapangan golf. Kekayaan Trump juga berasal dari Ayahnya yang juga seorang pengusaha yang bisa di bilang sukses dalam real estate. Trump menjadi pemimpin sekaligus mewarisi bisnis real estat ayahnnya pada tahun 1971. Selain itu, Trump juga cukup dikelan dalam filem dan juga telah menulis beberapa buku.
Selain dikenal sebgaia pebisnis, Trump juga satau-satunnya presiden amerika yang belum pernah memegang jabatan politik sama sekali. Dilansir pada bbc.com jejak politik Trump di mulai pada tahun 1987, ketika ia mulai menggoda calon presiden, dan telah mendaftar sebagai aggota partai Republik pada tahun 1987. Trump juga sempat menjajaki kemungkinan ikut serta dalam pemilihan presiden tahuun 2000 dengan partai Reformasi. Baru pada tahun 2015 Trump resmi mengumumkan siap bersaing menduduki gedung putih. Dengan selogan “ Make Amerika Great Again,” ia berhasil mengalahkan seorang politikus veteran dengan kemengangan menakjubkan dan ia di lantik sebagai presiden ke-45 Amerika Serikat.
Trump Dalam Dua Prespektif
Dalam sebuah wawancara pada tahun 1980, Trump mengambarkan politik seperti “kehidupan yang sangat kejam, dan orang yang paling cakap, malah memilih dunia bisnis.” Ucapan tersebut pada mulanya sejalan dengan cara pandang Trump tentang karirnnya ketika duduk bersama Tom Brokaw untuk membicarakan ral estate di New York City, “Anda bilang anda tidak mengatakan bahwa anda ingin memiliki kekayaan satu miliar dolar?” Tanya Brokaw, Trump menjawab “ Tidak, saya benar-benar tidak ingin. Saya hanya ingin tetap sibuk dan tetap aktif, dan tetarik dengan apa yang saya lakukan.” Jawaban tersebut tidak mengambarkan Trump yang penuh ambisi seperti yang kita lihat sekarang. Akan tetapi yang perlu kita ingat Trump dibesarkan dengan lingkungan sengitnya dunia bisnis, watak kompetitif itu tidak serta merta hilang begitu saja dalam hidupnnya. Dalam ambisnya “ Make Amerika Great Again,” Dia memperlihatkan siapa dia melalui kebijikan tarif impror, dengan mengejutkan namun pasti membuat dunia gempar. Berbondong-bondong negara meminta mediasi terkait kebijakan tersebut. Kebijakan tersebut juga menegaskan bahwa Trump (sebagai presiden Amerika) adalah orang yang berani dan tidak segan-segan dan tida bisa diajak bercanda.
Membaca Trump
Kedua fenomena diatas bisa dindikasikan Trump ketika terdesak, dan Trump ketika leluasa ( sebagai pengusaha yang sempat krisis, dan sebagai pengengam ( The Leader Of Power ). Sebagai contoh, Trump sangat mengenal, bahwa membangun kepercayaan semua orang adalah salah satu kunci untuk melangkah lenggang kegedung putih, tentu tidak luput untuk menarik simpati dari kepercayaan oaring-orang islam, hal itu dilihat ketika ia menemui Khabib dalam sebuah pertartandingan UFC 302, ia berjanji kepada khabib akan menghentikan serangan Israel ke Palestina. Khabib yang popular di kalangan umat Islam sebagai petarung muslim yang berprestasi, tentu akan sangat berpengaruh untuk meningkatkan kepercayaan umat islam kepada Trump. Tidak sampai di situ, Trump pernah berjanji dalam kampanyenya akan mngajak berbuka puasa umat muslim di gedung putih.
Gerakan politik ini tentu akan sangat efektif, mengingat sainganya seperti pada pemilihan lalu, Joe baiden citranya tentu tidak begitu baik dimata umat islam. Akan sangat menguntungkan apabila kepercayaan umat Islam bisa dimonopoli oleh Trump. Dalam upaya menundukkan umat Islam ini, kita teringat dengan catatan perenungan tentang ekspedisi Napoleon Bornaparte dalam Campagnes d’ Egypte et de Syiria: 1798-1799, yang ia diktekan kepada Jendral Bertand di Santa Helena. “Ada tiga hambatan bagi hegemoni Prancis di Timur dan oleh sebab itu setiap kekuatan Prancis harus melancarkan tiga peperangan untuk melawan hambatan tersebut: pertama melawan ingris, kedua kerajaan Usmani, dan ketiga, yang paling sulit, melawan kaum Muslim.” Napolen sangat mengenal siapa lawannya, begitu pula dengan Trump sangat mengenal siapa yang harus ditundukkan. Segala upaya dilakukan oleh Napoleon untuk meyakinkan umat Muslim sampai- samapi ia mengatakan “ kami adalah orang islam sejatai” yang ia sampaikan pada rakyat Iskandariah pada 2 Juli 1798. Pernyatan itu keluar karna Napoleon sangat tau bahwa akan sangat merugikan berperang melawan umat yang menjunjung tinggi nilai jihad.
Dalam berbagai kesempatan Napoleon berusaha untuk membuktikan bahwa dia berjuang demi Islam, dengan menerjemahkan setiap perkataannya kedalam bahasa Arab Qur’ani. Entah kebetulan atau tidak, Napoleon juga mengundang para Qadi, Mufti enam puluh pengajar dari Al-Azhar ke-kantornya, serta diberi kehormatan militer, dengan cara menunjukkan kekagumannya terhadap Islam dan Muhammad serta Al’Quran. Stategi ini berhasil penduduk Kairo akhirnnya seolah tidak berprasangka apapun terhadap pendudukan tentara tersebut.
Upaya Trump dengan janjinya untuk menarik kepercayaan umat Islam bisa dibilang berhasil, padahal seblumnnya ia sempat mengelurkan kebijakan terkait larangan 7 negara Islam masuk ke-Amarika serikat. Setelah menjabat sosok Trump yang pada mulannya menawarkan kemanusian, dan megayomi perbedaan berubah ketika kekuasaan itu ada di tangannya. Hal itu bisa dilihat dengan kebijakan Penghentian bantuan AS untuk Palestina, penangkapan hingga deportasi aktivis palestian di AS, dan tentu yang paling mengejutkan adalah proposal menambil alih palestina oleh AS. Ambisi apa yang ingin dicapai Trump, apakah untuk Amerika?, untuk perdamaian dunia?, atau untuk dirinnya sendiri. Sekirannya dalam kasus umat Islam ini, apakah mungkin itu yang disebutkan Dalam Al-quran? :
Dan di antara manusia ada yang pembicaraannya tentang kehidupan dunia mengagumkan engkau (Muhammad), dan dia bersaksi kepada Allah mengenai isi hatinya, padahal dia adalah penentang yang paling keras. (204) Dan apabila dia berpaling (dari engkau), dia berusaha untuk berbuat kerusakan di muka bumi, serta merusak tanam-tanaman dan ternak, padahal Allah tidak menyukai kerusakan. (205) Dan apabila dikatakan kepadanya, “Bertakwalah kamu kepada Allah,” bangkitlah kesombongannya untuk berbuat dosa. Maka pantaslah baginya neraka Jahanam, dan sungguh (Jahanam itu) seburuk-buruk tempat tinggal.
(206) – (Q.S Al-Baqarah: 204-206)
.
Penulis: M. Iqbal Maulana seorang mahasiswa sastra yang punya keinginan menjadi Sastrawan yang membawa nilai kemanusian, bisa disapa pada halaman instagram @maulana_yamaualana2

















