Kisah Joshua, anak pertama dari Mentawai, menjadi gambaran perjuangan meraih pendidikan hingga ke perguruan tinggi. Lulus melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) di Institut Teknologi Bandung (ITB), Joshua diantar warga satu kampung menuju pelabuhan sebelum menyeberangi laut untuk melanjutkan perjalanan ke Bandung.
Mentawai merupakan salah satu wilayah terluar Indonesia. Dari daerah tersebut, Joshua bersama ayah dan adiknya menempuh perjalanan panjang demi mengejar ilmu.
Setibanya di Bandung, Joshua mendapat kesempatan mengunjungi Observatorium Bosscha ITB. Di tempat tersebut, ia diperkenalkan dengan dunia astronomi, mulai dari galaksi dan bintang hingga penggunaan teleskop untuk mengamati langit.
Joshua juga bertemu dengan sejumlah profesor ITB, di antaranya Prof. Taufiq dan Prof. Dhani. Nama keduanya bahkan telah diabadikan sebagai nama asteroid di langit.
Menariknya, Joshua akan menempuh pendidikan di Jurusan Astronomi ITB. Perjalanannya menuju kampus tersebut bahkan telah mendapat perhatian ITB sejak sebelum ia berangkat ke Bandung.
Sebelumnya, Dekan dan Direktur ITB mendatangi rumah Joshua di Mentawai. Mereka harus menyeberangi laut untuk bertemu langsung dengan Joshua dan keluarganya.
Dalam kunjungan tersebut, Joshua mendapat sejumlah dukungan, termasuk topi bertanda tangan Prof. Zulfiadi, profesor di bidang pirometalurgi dan plasma hidrogen, serta beasiswa dari ParagonCorp. Ia juga menerima bingkisan, novel karya Nurhayati Subakat, Founder Wardah, dan hadiah dari Prof. Aep selaku Dekan FMIPA ITB.
Pesan yang disampaikan dalam perjalanan Joshua menjadi simbol bahwa keterbatasan jarak bukan penghalang untuk mengenyam pendidikan tinggi.
“ITB rumah untuk semua,” demikian pesan yang disampaikan.
ITB juga menegaskan komitmennya memastikan keterwakilan mahasiswa dari berbagai daerah, termasuk wilayah terluar Indonesia.
Kisah Joshua menjadi pengingat bahwa sejauh apa pun rumah seseorang, kesempatan untuk mengejar pendidikan dan meraih cita-cita tetap terbuka.
