Bukan karena pertengkaranMengapa rumah makan Pagi Sore memiliki identitas merah dan hijau? Apakah kedua pihak yang berada di baliknya berpisah karena perselisihan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut kerap muncul ketika orang membicarakan dua versi Pagi Sore yang dikenal masyarakat saat ini.Namun, di balik perbedaan warna itu terdapat kisah bisnis keluarga yang unik.
Pagi Sore tidak terpecah karena pertengkaran, melainkan melalui sebuah mekanisme pembagian yang dirancang agar kedua pihak memperoleh bagian secara adil.Berawal dari persahabatan dua perantau MinangPagi Sore didirikan pada 1973 di Palembang oleh Haji Sabirin dan Haji Lismar. Keduanya merupakan orang Minang asal Bukittinggi.
Meski sama-sama menjalankan bisnis rumah makan, hubungan mereka tidak berhenti pada kemitraan usaha. Mereka juga mengelola bisnis tekstil bersama dan telah menganggap satu sama lain seperti saudara.Kedekatan tersebut kemudian berkembang menjadi ikatan antarkeluarga.
Haji Lismar memiliki 12 anak, sedangkan Haji Sabirin memiliki tujuh anak. Anak-anak dari kedua keluarga tumbuh bersama dan saling mengenal sejak kecil. Hubungan itu bahkan berlanjut hingga tiga pasangan dari kedua keluarga menikah.
Dengan demikian, sebelum bisnis mereka dipisahkan, dua keluarga pendiri Pagi Sore telah terlebih dahulu menjadi satu keluarga melalui pernikahan.Membagi lima cabang dengan sistem yang sederhanaPada 2003, ketika Pagi Sore telah memiliki lima cabang, Haji Sabirin dan Haji Lismar memutuskan untuk memisahkan manajemen bisnis.
Tantangannya adalah jumlah cabang yang ganjil. Mereka harus menemukan cara agar pembagian tersebut tidak menimbulkan rasa tidak adil atau kecurigaan di kemudian hari.Keduanya lalu menyepakati sebuah sistem sederhana: pihak pertama bertugas membagi cabang, sedangkan pihak kedua berhak memilih salah satu hasil pembagian.
Sebagai ilustrasi, lima cabang—A, B, C, D, dan E—dapat dibagi menjadi dua pilihan. Pilihan pertama berisi cabang A dan E, sementara pilihan kedua terdiri atas cabang B, C, dan D. Pihak yang tidak menyusun pembagian kemudian memilih salah satu dari dua pilihan tersebut.Sistem ini menciptakan dorongan agar pembagian dilakukan seadil mungkin.
Pihak yang bertugas membagi mengetahui bahwa pihak lain akan menentukan pilihan akhir. Jika pembagian dibuat timpang, pihak pembagi sendiri berisiko mendapatkan bagian yang kurang menguntungkan. Dengan prinsip “satu pihak membagi, pihak lain memilih”, kedua pendiri menemukan cara elegan untuk memisahkan manajemen tanpa harus memutus hubungan kekeluargaan.
Lahirnya Pagi Sore merah dan hijauHasil pembagian tersebut kemudian melahirkan dua Pagi Sore yang dikenal hingga kini. Haji Sabirin menjadi bagian dari Pagi Sore merah, sedangkan keluarga Haji Lismar meneruskan Pagi Sore hijau.Perbedaan identitas itu bukanlah tanda bahwa kedua keluarga bermusuhan.
Sebaliknya, merah dan hijau menjadi hasil dari upaya memisahkan bisnis yang telah dibangun bersama selama sekitar 30 tahun dengan cara yang dianggap paling adil bagi kedua pihak.Menjaga konsistensi rasa di tengah ekspansiSalah satu cabang Pagi Sore hijau kemudian memperluas kehadirannya ke luar Jawa, termasuk melalui pembukaan cabang di Bali.
Antusiasme masyarakat terhadap pembukaan cabang baru disebut cukup tinggi. Bahkan sebelum resmi dibuka, banyak calon pelanggan telah masuk dalam daftar tunggu.Di balik ekspansi tersebut, muncul pertanyaan penting: bagaimana sebuah jaringan rumah makan dapat menjaga rasa agar tetap konsisten di berbagai daerah?Untuk menjawab tantangan itu, bumbu-bumbu kering diracik di dapur pusat di Jakarta dan kemudian dikirim ke berbagai wilayah di Indonesia.
Sementara itu, bahan protein dan santan tetap diperoleh dari pemasok setempat.Strategi tersebut membuat standar resep tetap terjaga, sekaligus memberi ruang bagi sedikit variasi yang muncul dari bahan-bahan alami di setiap daerah. Variasi itu justru dipandang sebagai bagian dari karakter masakan tradisional.
Merah atau hijau, mana yang lebih autentik?
Perbedaan antara Pagi Sore merah dan hijau pada akhirnya tidak hanya terlihat dari warna identitasnya, tetapi juga dapat terasa dalam pengalaman bersantap.
Bahkan di antara cabang-cabang dengan identitas yang sama, rasa bisa saja memiliki sedikit perbedaan karena penggunaan bahan lokal.
Beberapa menu yang menjadi favorit antara lain bebek cabai hijau, telur barendo, gulai tunjang, serta kerupuk jangek yang disiram kuah gulai.Lantas, Pagi Sore merah atau hijau, mana yang lebih autentik? Pertanyaan itu tidak harus segera dijawab.
Sebelum menentukan mana yang paling autentik, setiap orang perlu menyepakati terlebih dahulu makna “autentik” dalam konteks masakan tradisional: apakah autentik berarti resep yang sama, sejarah yang sama, teknik memasak, atau pengalaman rasa yang diwariskan dari generasi ke generasi?
Yang jelas, kisah Pagi Sore menunjukkan bahwa perbedaan tidak selalu lahir dari konflik. Dalam kasus ini, perbedaan justru merupakan hasil dari kesepakatan, kepercayaan, dan kemauan untuk membagi sesuatu yang telah dibangun bersama secara adil.
Sumber : Instagram/Gastronusa
