Kabar penutupan Warong Nasi Pariaman, kedai Nasi Padang tertua di Singapura, memang sempat menjadi topik hangat di Parlemen Singapura pada awal Februari 2026.
Warong Nasi Pariaman telah berdiri sejak 1948 di North Bridge Road dan dikelola oleh keluarga Haji Isrin secara turun-temurun selama 78 tahun. Penutupannya dianggap sebagai kehilangan besar bagi identitas kuliner Melayu-Minang di Singapura.
Berikut adalah ringkasan poin-poin penting dari pembahasan tersebut:
1. Dibahas di Parlemen (3 Februari 2026)
Masalah ini diangkat di Parlemen untuk menjawab kekhawatiran publik mengenai nasib bisnis warisan (heritage businesses) di kawasan bersejarah seperti Kampong Glam. Dr. Syed Harun Alhabsyi (Anggota Parlemen) mengklarifikasi bahwa penutupan Warong Nasi Pariaman bukan disebabkan oleh kenaikan harga sewa yang ekstrem, sebagaimana spekulasi yang beredar luas di media sosial.
2. Statistik Harga Sewa
Dalam sesi tersebut, dipaparkan data dari Urban Redevelopment Authority (URA) untuk meredam kekhawatiran warga:
-
Kenaikan sewa di kawasan Kampong Glam rata-rata hanya sekitar 2% per tahun dalam dua tahun terakhir.
-
Pemerintah menyatakan bahwa pertumbuhan harga sewa di distrik bersejarah masih jauh di bawah pertumbuhan PDB nominal Singapura.
-
Meskipun ada beberapa lokasi (seperti Haji Lane) yang mengalami kenaikan hingga 25%, sebagian besar toko di area tersebut masih memiliki harga sewa di bawah harga rata-rata ritel di pusat kota.
3. Respons Pemerintah
-
Intervensi Menteri: Sebelum penutupan resmi pada 31 Januari 2026, Dr. Faishal Ibrahim (Menteri Urusan Masyarakat Muslim) sempat mengunjungi pemilik kedai untuk berdiskusi dan menawarkan bantuan bantuan melalui berbagai agensi pemerintah.
-
Alasan Penutupan: Meski alasan spesifik bersifat pribadi bagi keluarga pemilik, pemerintah menekankan bahwa faktor utamanya adalah tantangan operasional dan suksesi, bukan sekadar masalah biaya properti.
Warisan Kuliner 78 Tahun Berakhir: Penutupan Warong Nasi Pariaman Jadi Sorotan di Parlemen Singapura
Kabar penutupan Warong Nasi Pariaman, kedai Nasi Padang tertua di Singapura, akhirnya sampai ke meja hijau Parlemen pada awal Februari 2026. Kedai legendaris yang telah beroperasi sejak tahun 1948 di North Bridge Road ini resmi berhenti beroperasi pada 31 Januari lalu, memicu gelombang nostalgia sekaligus kekhawatiran publik mengenai masa depan bisnis warisan budaya (heritage businesses) di tengah dinamika ekonomi perkotaan.
Dalam sidang Parlemen yang berlangsung pada 3 Februari, Dr. Syed Harun Alhabsyi memberikan klarifikasi penting guna menanggapi spekulasi yang beredar di masyarakat. Beliau menegaskan bahwa penutupan kedai milik keluarga Haji Isrin ini bukan disebabkan oleh lonjakan harga sewa yang tidak masuk akal. Berdasarkan data dari Urban Redevelopment Authority (URA), kenaikan harga sewa di kawasan Kampong Glam tercatat cukup stabil, yakni rata-rata hanya sebesar 2% per tahun dalam dua tahun terakhir, jauh di bawah angka pertumbuhan ekonomi nasional.
Pemerintah Singapura sebenarnya telah melakukan langkah proaktif sebelum kedai tersebut benar-benar tutup. Dr. Faishal Ibrahim, Menteri Negara Urusan Masyarakat Muslim, diketahui sempat mengunjungi pemilik kedai untuk menawarkan berbagai bentuk bantuan dari agensi pemerintah. Namun, penutupan tetap dilakukan karena adanya tantangan operasional yang kompleks dan isu suksesi internal keluarga. Pemerintah menekankan bahwa meskipun sangat menyayangkan kehilangan ikon kuliner ini, keputusan tersebut sepenuhnya merupakan pilihan strategis dari pihak keluarga pengelola.
Hilangnya Warong Nasi Pariaman meninggalkan lubang besar dalam peta sejarah kuliner Melayu-Minang di Singapura setelah 78 tahun melayani pelanggan dari berbagai generasi. Kasus ini kini menjadi pemantik diskusi lebih lanjut di Parlemen mengenai bagaimana skema dukungan pemerintah dapat diperkuat untuk melindungi bisnis-bisnis bersejarah lainnya agar tetap relevan dan mampu bertahan dari tantangan operasional di masa depan tanpa harus kehilangan identitas budayanya.
Anggota Parlemen untuk GRC Nee Soon sekaligus Setiausaha Parlimen Kanan, Dr. Syed Harun Alhabsyi, memberikan klarifikasi tegas di Parlemen terkait penutupan kedai ikonik Warong Nasi Pariaman. Dalam penjelasannya pada Selasa (3/2/2026), beliau mematahkan spekulasi publik yang menyebutkan bahwa kenaikan harga sewa tanah menjadi penyebab utama berakhirnya operasional kedai berusia 78 tahun tersebut.
Klarifikasi Data Ekonomi
Menanggapi kekhawatiran masyarakat mengenai nasib bisnis warisan (heritage businesses) di kawasan Kampong Glam, Dr. Syed Harun memaparkan data dari Urban Redevelopment Authority (URA). Beliau menjelaskan bahwa rata-rata kenaikan harga sewa di distrik bersejarah tersebut hanya berkisar 2% per tahun dalam dua tahun terakhir.
“Data menunjukkan bahwa pertumbuhan harga sewa di kawasan ini sebenarnya masih berada di bawah pertumbuhan PDB nominal Singapura. Jadi, narasi yang menyebutkan adanya lonjakan sewa yang ekstrem tidak didukung oleh fakta di lapangan,” ujar Dr. Syed Harun di hadapan sidang Parlemen.
Tantangan Operasional dan Suksesi
Dr. Syed Harun menekankan bahwa pemerintah, melalui Dr. Faishal Ibrahim dan berbagai agensi terkait, telah melakukan upaya jemput bola sebelum kedai tersebut resmi ditutup pada 31 Januari 2026. Menurutnya, keputusan keluarga pengelola untuk berhenti beroperasi lebih didasari oleh tantangan internal, termasuk masalah operasional harian dan suksesi manajemen, ketimbang beban biaya properti.
Komitmen Pelestarian Budaya
Sebagai sosok yang juga dikenal sebagai psikiater dan aktif dalam kegiatan sosial, Dr. Syed Harun menegaskan bahwa pemerintah tetap berkomitmen mendukung bisnis warisan budaya. Beliau mendorong para pemilik usaha lama untuk memanfaatkan skema bantuan dari National Heritage Board (NHB) dan Enterprise Singapore agar tetap relevan di era modern.
“Kami sangat menyayangkan kehilangan ikon kuliner seperti Warong Nasi Pariaman. Namun, pemerintah akan terus memastikan bahwa lingkungan usaha di kawasan bersejarah tetap kondusif bagi mereka yang ingin melestarikan tradisi kuliner kita,” pungkasnya.
Sekilas Tentang Dr. Syed Harun Alhabsyi
-
Jabatan: Anggota Parlemen GRC Nee Soon (Nee Soon Link).
-
Peran Pemerintah: Setiausaha Parlimen Kanan, Kementerian Pembangunan Negara (MND) & Kementerian Pendidikan (MOE).
-
Latar Belakang: Pakar Psikiatri (Dokter Spesialis Jiwa).
-
Fokus Isu: Kesehatan mental, bantuan pendidikan (LBKM), dan pelestarian warisan budaya Melayu/Islam di Singapura.
