Cuaca Sumatera

Diperbarui 04.15 WIB · Sumber Open-Meteo
Medan
27°
🌦 Gerimis ringan
Padang
25°
🌦 Gerimis
Pekanbaru
30°
🌦 Gerimis ringan
Palembang
31°
⛅ Berawan
Banda Aceh
29°
🌦 Gerimis
Batam
27°
🌦 Gerimis
Bandar Lampung
29°
🌦 Gerimis ringan
infoandalas › Sumatra › Berita
Sumatra

Ternyata Ini Alasan Orang Minang Tak Bisa Diam Soal Palestina, dan Rumah Gadang Menyimpan Jawabannya!

PADANG: Kalau Anda mengira solidaritas orang Minang untuk Palestina hanya soal seruan di media sosial, Anda perlu melihat lebih dekat. Pada 4 Oktober, halaman Kantor Gubernur Sumatera Barat di Padang akan dipenuhi lautan orang untuk merayakan HUT Sumbar ke-81 dengan cara yang tidak biasa: Palestina Run 5K, Aksi Bela Palestina, dan konser amal.

Agenda yang Menyatukan Semua Usia

Kegiatan berlangsung pukul 07.30 hingga 12.00 WIB di halaman Kantor Gubernur Sumbar. Rangkaiannya mencakup lari 5 kilometer, aksi solidaritas, dan konser amal penutup yang menampilkan Opick, Izzatul Islam, Bang Onim & Family, serta Shoutul Risalah. Menurut unggahan itu, Duta Besar Palestina juga dijadwalkan hadir.

Acara ini gratis dan terbuka untuk umum. Panitia mengajak masyarakat datang bersama keluarga, kerabat, dan teman.

Kenapa Ranah Minang?

Jawabannya bukan kebetulan. Banyak nilai yang diwariskan di Minangkabau bertemu dengan isu yang dihadapi warga Palestina hari ini.

Rumah dan tanah adalah identitas. Dalam adat Minang, harta pusako tinggi tidak boleh diperjualbelikan sembarangan. Pepatahnya berbunyi “jua indak dimakan bali, gadai indak dimakan sando”. Tanah dan rumah gadang adalah warisan lintas generasi dan simbol asal-usul kaum. Bagi orang Minang, kehilangan rumah dan tanah berarti kehilangan jati diri, dan dari sinilah empati terhadap keluarga Palestina yang kehilangan rumah tumbuh dengan mudah.

Yang lemah harus dilindungi. Sistem kekerabatan Minang menempatkan perempuan, anak, dan lansia dalam perlindungan kaum. Prinsip anak dipangku, kamanakan dibimbiang menegaskan bahwa tidak ada anggota masyarakat yang dibiarkan terlantar. Dengan ukuran moral seperti ini, penderitaan warga sipil, terutama anak-anak, tidak bisa dipandang sebagai urusan orang lain.

Beban dipikul bersama. “Barek samo dipikua, ringan samo dijinjiang”: berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Lari bersama, aksi bersama, dan konser amal adalah bentuk modern dari semangat itu.

Keputusan lahir dari musyawarah. “Bulek aia dek pambuluah, bulek kato dek mufakat.” Nasib sebuah bangsa semestinya ditentukan bersama bangsa itu sendiri, bukan dipaksakan dari luar.

Jejak Tokoh Minang

Kepedulian ini punya akar sejarah. Mohammad Natsir aktif di forum dunia Islam dan menyuarakan dukungan bagi Palestina, sedangkan Buya Hamka berulang kali membela bangsa Palestina lewat tulisan dan dakwahnya. Keduanya tumbuh dalam tradisi Minang yang menjunjung keadilan dan menolak penjajahan.

Solidaritas yang Bermakna: Amanah dan Konsistensi

Nilai Minang juga menuntut raso jo pareso, yaitu rasa disertai pemeriksaan. Ada beberapa pertanyaan yang layak diajukan agar kegiatan ini benar-benar bermakna:

  • Ke mana donasi disalurkan? Bila konser amal menghimpun dana, publik berhak tahu lembaga penyalurnya dan mendapat laporan terbuka setelah acara.
  • Apakah pesan acara tetap berpusat pada kemanusiaan? Pembelaan terhadap warga sipil Palestina tidak perlu, dan tidak seharusnya, berubah menjadi kebencian pada kelompok mana pun. Prinsip keadilan Minang menolak sikap berat sebelah.
  • Apakah kita juga peduli pada yang dekat? Sengketa tanah ulayat, korban bencana di Sumbar, dan warga rentan di sekitar kita adalah ujian konsistensi. Pepatah Minang mengingatkan agar kita mancaliak ka nan di dalam diri lebih dulu. Ini bukan untuk mengurangi dukungan bagi Palestina, melainkan agar nilai yang kita bawa utuh.

HUT Sumbar ke-81 punya kesempatan menunjukkan bahwa nilai adat bukan sekadar pepatah di dinding rumah gadang. Bila keadilan, perlindungan bagi yang lemah, dan hak atas tanah dipegang secara konsisten, dukungan untuk Palestina menjadi kelanjutan dari jati diri Minang.

Ajak keluarga, dunsanak jo kawan-kawan.
Jangan datang surang, kito ramaikan basamo.

📍 Halaman Kantor Gubernur Sumatera Barat
🕢 07.30–12.00 WIB
🎟️ Gratis & terbuka untuk umum

Berita Terkait

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama menanggapi berita ini.

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *