Cuaca Sumatera

Diperbarui 04.20 WIB · Sumber Open-Meteo
Medan
27°
🌦 Gerimis ringan
Padang
25°
🌦 Gerimis
Pekanbaru
30°
🌦 Gerimis ringan
Palembang
31°
⛅ Berawan
Banda Aceh
29°
🌦 Gerimis
Batam
27°
🌦 Gerimis
Bandar Lampung
29°
🌦 Gerimis ringan
infoandalas › Sumatra › Berita
Sumatra

Universiti Muhammadiyah Malaysia (UMAM) jadi universitas asal Indonesia pertama yang beroperasi secara resmi di luar negeri

Pimpin Dua Universitas di Dua Negara, Saidul Amin Jadi Naib Canselor UMAM Malaysia Sekaligus Rektor UMRI

KUALA LUMPUR – Kiprah akademisi asal Indonesia, Dr. H. Saidul Amin, M.A., kini melintasi batas negara. Di tengah tugasnya sebagai Rektor Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI), Saidul Amin juga dipercaya memimpin Universiti Muhammadiyah Malaysia (UMAM) sebagai Naib Canselor atau Vice Chancellor.

Posisi tersebut menempatkan Saidul Amin pada peran strategis dalam menghubungkan jaringan pendidikan tinggi Muhammadiyah antara Indonesia dan Malaysia, sekaligus memperkuat agenda internasionalisasi Muhammadiyah di kawasan Asia Tenggara.

Berdasarkan laman resmi Universiti Muhammadiyah Malaysia, Saidul Amin tercatat sebagai Vice Chancellor UMAM. Sementara di Indonesia, ia masih aktif menjalankan tugas sebagai Rektor Universitas Muhammadiyah Riau.

Menggantikan Prof. Waluyo Adi Siswanto

Saidul Amin bukan baru menjabat sebagai Naib Canselor UMAM pada 2026.

Publikasi Majlis Agama Islam dan Adat Istiadat Melayu Perlis (MAIPs) sebelumnya menyebut Saidul Amin sebagai Naib Canselor UMAM yang baru dilantik menggantikan Prof. Ir. Dr. Waluyo Adi Siswanto.

Meski tanggal persis pelantikannya belum ditemukan dalam publikasi resmi yang tersedia secara terbuka, jejak pemberitaan menunjukkan bahwa Saidul Amin telah memegang jabatan tersebut setidaknya pada akhir 2024.

Dalam publikasi resmi UMAM mengenai kunjungan delegasi Universiti Muhammadiyah Malaysia ke Universitas Muhammadiyah Riau pada 21 Desember 2024, Saidul Amin telah diperkenalkan sebagai Rektor UMRI sekaligus Vice Chancellor UMAM.

Dengan demikian, Saidul Amin diketahui telah memimpin UMAM paling lambat sejak Desember 2024 dan terus menjalankan peran tersebut hingga 2026.

Memimpin Dua Universitas di Indonesia dan Malaysia

Peran Saidul Amin terbilang menarik karena pada saat yang sama ia juga masih memimpin Universitas Muhammadiyah Riau di Pekanbaru.

Kepemimpinan lintas negara tersebut membuatnya berada pada posisi strategis dalam membangun hubungan akademik antara dua perguruan tinggi Muhammadiyah yang beroperasi di Indonesia dan Malaysia.

UMAM sendiri merupakan perguruan tinggi Muhammadiyah yang berada di Malaysia. Kehadirannya menjadi bagian penting dari perluasan jaringan pendidikan Muhammadiyah ke tingkat internasional.

Dalam berbagai kesempatan, Saidul Amin menempatkan UMAM bukan sekadar sebagai perguruan tinggi Muhammadiyah yang berada di luar Indonesia, tetapi juga sebagai jembatan keilmuan dan kebudayaan yang menghubungkan masyarakat serumpun di Asia Tenggara.

UMAM dan Internasionalisasi Muhammadiyah

Kehadiran Universiti Muhammadiyah Malaysia menjadi salah satu tonggak penting internasionalisasi pendidikan Muhammadiyah.

Muhammadiyah selama ini memiliki jaringan perguruan tinggi yang luas di Indonesia. Melalui UMAM, jaringan tersebut berkembang melampaui batas negara dan memasuki ekosistem pendidikan tinggi Malaysia.

UMAM membawa gagasan Islam Berkemajuan melalui jalur pendidikan, penelitian, kerja sama akademik, serta hubungan sosial dan kebudayaan lintas negara.

Saidul Amin dalam berbagai kesempatan juga menekankan pentingnya keberadaan UMAM sebagai bagian dari hubungan pendidikan Indonesia dan Malaysia.

Kedekatan sejarah, budaya, agama dan bahasa antara kedua negara dinilai membuka ruang yang besar bagi pengembangan kolaborasi pendidikan tinggi.

Bertemu Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim

Peran UMAM dalam hubungan pendidikan Indonesia-Malaysia semakin terlihat ketika jajaran Pimpinan Pusat Muhammadiyah melakukan pertemuan dengan Perdana Menteri Malaysia Dato’ Seri Anwar Ibrahim di Putrajaya pada 3 Maret 2025.

Dalam pertemuan tersebut, Saidul Amin turut mendampingi Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof. Dr. Haedar Nashir.

Pertemuan membahas sejumlah agenda, termasuk penguatan hubungan pendidikan antara Muhammadiyah dan Malaysia serta perkembangan Universiti Muhammadiyah Malaysia.

Dalam pemberitaan resmi UMAM, dukungan pemerintah Malaysia terhadap perkembangan UMAM turut menjadi perhatian. Kampus tersebut diharapkan berkembang menjadi salah satu pusat pendidikan Islam modern dengan jejaring internasional.

Pertemuan itu sekaligus memperlihatkan posisi strategis UMAM dalam diplomasi pendidikan antara Muhammadiyah dan Malaysia.

Jembatan Akademik Indonesia-Malaysia

Selain menjalankan pengembangan internal universitas, Saidul Amin juga aktif membangun jaringan dengan berbagai institusi di kedua negara.

Hubungan tersebut tidak hanya melibatkan UMAM dan UMRI, tetapi berkembang melalui kerja sama dengan perguruan tinggi, lembaga pemerintahan, organisasi masyarakat dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.

Posisi Saidul Amin sebagai pimpinan universitas di kedua negara memberikan ruang tersendiri bagi terciptanya pertukaran mahasiswa, kolaborasi penelitian, mobilitas dosen hingga pengembangan kegiatan akademik bersama.

Hubungan Riau dan Malaysia juga memiliki kedekatan geografis dan kebudayaan yang membuat kerja sama tersebut memiliki konteks tersendiri.

Riau berada tepat di kawasan strategis Selat Malaka dan memiliki hubungan historis yang panjang dengan Semenanjung Malaysia. Kehadiran UMRI dan UMAM dalam satu jejaring kepemimpinan membuka peluang memperkuat kembali konektivitas tersebut melalui pendidikan tinggi.

Dapat Penghargaan dari KJRI Pulau Pinang

Aktivitas Saidul Amin di Malaysia juga mendapatkan pengakuan dari perwakilan Indonesia.

Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Pulau Pinang memberikan penghargaan kepadanya atas kontribusi dalam mempererat hubungan Indonesia dan Malaysia.

Penghargaan tersebut diberikan dalam konteks perannya sebagai intelektual yang ikut membangun hubungan akademik dan sosial masyarakat kedua negara.

Aktivitas Saidul Amin di Malaysia juga mencakup keterlibatannya dalam berbagai forum keilmuan dan kegiatan masyarakat.

Tetap Pimpin UMRI di Pekanbaru

Meski mengemban amanah sebagai Naib Canselor UMAM, Saidul Amin tetap menjalankan kepemimpinan Universitas Muhammadiyah Riau.

Hingga September 2026, ia masih tercatat aktif sebagai Rektor UMRI.

Pada Musyawarah Perencanaan dan Pengembangan (Musrenbang) UMRI Tahun Akademik 2026/2027 yang digelar pada 11 September 2026, Saidul Amin memaparkan arah pengembangan universitas dalam beberapa tahapan.

UMRI menargetkan penguatan posisi sebagai universitas unggul pada tingkat nasional pada periode 2026–2030. Tahapan selanjutnya diarahkan menuju tingkat ASEAN pada 2031–2035 sebelum bergerak menuju daya saing pada level global.

Target tersebut menunjukkan bahwa internasionalisasi tidak hanya dijalankan melalui pengembangan UMAM di Malaysia, tetapi juga melalui peningkatan jejaring internasional UMRI dari Pekanbaru.

Dari Riau Menembus Jaringan Pendidikan Asia Tenggara

Kepemimpinan Saidul Amin di UMRI dan UMAM menjadi salah satu gambaran semakin terbukanya ruang kolaborasi pendidikan tinggi lintas negara di lingkungan Muhammadiyah.

Jika UMRI menjadi salah satu pusat pengembangan pendidikan Muhammadiyah dari Riau, UMAM memiliki posisi yang berbeda karena berada langsung dalam ekosistem pendidikan Malaysia.

Keduanya berada di kawasan yang secara geografis berdekatan dan memiliki hubungan masyarakat yang telah berlangsung selama berabad-abad.

Di tengah semakin kuatnya mobilitas pendidikan dan kerja sama perguruan tinggi di Asia Tenggara, posisi tersebut memberikan peluang bagi Muhammadiyah untuk memperluas jejaring akademik, penelitian dan pertukaran pengetahuan.

Saidul Amin kini berada di tengah proses tersebut: memimpin universitas di Pekanbaru sekaligus mengemban amanah sebagai Naib Canselor Universiti Muhammadiyah Malaysia.

Peran ganda itu menjadikannya salah satu penghubung penting dalam penguatan jaringan pendidikan Muhammadiyah antara Indonesia dan Malaysia serta dalam upaya membawa pendidikan bercirikan Islam Berkemajuan ke ruang akademik yang semakin luas di Asia Tenggara.

Berita Selanjutnya Sumatra Thawalib Parabek: Sejarah, Reformasi Pendidikan Islam, Politik, Jaringan, dan Warisannya hingga 2026
›

Berita Terkait

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama menanggapi berita ini.

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *