Cuaca Sumatera

Diperbarui 04.14 WIB · Sumber Open-Meteo
Medan
27°
🌦 Gerimis ringan
Padang
25°
🌦 Hujan lokal
Pekanbaru
30°
🌤 Berawan sebagian
Palembang
31°
⛅ Berawan
Banda Aceh
30°
🌦 Gerimis ringan
Batam
27°
🌦 Hujan lokal sedang
Bandar Lampung
30°
⛅ Berawan
infoandalas › Riau › Berita
Riau

Monyet Liar Resahkan Warga Tembilahan, Masuk ke Rumah hingga Bikin Penghuni Ketakutan

TEMBILAHAN, RIAU – Kemunculan seekor monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) di kawasan permukiman warga Parit 13 dan Parit 14, Kota Tembilahan, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau, memicu keresahan masyarakat. Dalam beberapa pekan terakhir, hewan liar tersebut dilaporkan berkeliaran di sekitar rumah-rumah warga, masuk ke pekarangan, bahkan diduga beberapa kali memasuki rumah penduduk.

Sejumlah video yang beredar di media sosial memperlihatkan monyet berwarna abu-abu itu melompat di sekitar permukiman, berjalan di jalan lingkungan, hingga mengintip melalui celah pintu maupun jendela rumah warga. Rekaman tersebut dengan cepat menjadi perhatian publik dan memunculkan berbagai tanggapan dari warganet.

Warga Mengaku Resah

Berdasarkan laporan warga, kemunculan monyet liar tersebut tidak hanya terjadi pada siang hari, tetapi juga pada waktu-waktu tertentu ketika aktivitas masyarakat sedang berlangsung. Beberapa warga mengaku monyet sering berada di atap rumah, memanjat pagar, mengacak-acak tempat sampah, hingga mengambil makanan yang berada di teras atau dapur.

Akibatnya, sebagian warga memilih lebih berhati-hati saat membuka pintu rumah. Orang tua juga mengaku khawatir membiarkan anak-anak bermain di luar tanpa pengawasan karena takut berpapasan dengan satwa liar tersebut.

Selain itu, pengendara sepeda motor di lingkungan setempat diminta meningkatkan kewaspadaan karena monyet kerap melintas secara tiba-tiba di jalan permukiman.

Diduga Menyerang Belasan Warga

Merujuk informasi yang disampaikan pihak berwenang sebelumnya, sejak 25 Juli 2026 monyet tersebut diduga telah menyerang 14 orang, terdiri dari anak-anak, orang dewasa hingga lansia.

Korban mengalami luka akibat cakaran dan gigitan pada bagian kaki, tangan, hingga punggung. Sebagian korban bahkan harus menjalani tindakan jahitan di fasilitas kesehatan.

Meski demikian, seluruh korban telah memperoleh penanganan medis dan vaksin pencegahan rabies secara gratis. Tidak ada korban yang dilaporkan harus menjalani perawatan inap.

Upaya Penangkapan Masih Berlangsung

Menindaklanjuti keresahan masyarakat, tim gabungan dari instansi terkait telah melakukan upaya pencarian dan penangkapan monyet tersebut.

Namun hingga 31 Juli 2026, proses evakuasi belum membuahkan hasil karena satwa tersebut berpindah-pindah lokasi dan cukup sulit didekati.

Pemerintah daerah bersama petugas terkait mengimbau masyarakat agar tidak mencoba menangkap atau memancing monyet secara mandiri. Warga juga diminta mengamankan makanan, menutup akses masuk ke rumah, serta segera melapor apabila kembali melihat keberadaan satwa tersebut.

Mengapa Monyet Masuk ke Permukiman?

Menurut berbagai kajian konservasi satwa liar, monyet ekor panjang umumnya memasuki kawasan permukiman karena beberapa faktor, antara lain:

  • Berkurangnya habitat alami akibat perubahan penggunaan lahan.
  • Ketersediaan makanan yang mudah diperoleh dari lingkungan permukiman.
  • Kebiasaan masyarakat memberi makan satwa liar sehingga monyet kehilangan rasa takut terhadap manusia.
  • Persaingan makanan di habitat asal yang mendorong satwa mencari sumber pangan baru.

Para ahli konservasi mengingatkan bahwa memberi makan monyet liar justru dapat meningkatkan frekuensi interaksi dengan manusia dan berpotensi memicu konflik.

Imbauan kepada Masyarakat

Untuk mengurangi risiko konflik dengan satwa liar, masyarakat disarankan untuk:

  • Tidak memberi makan monyet liar.
  • Menutup rapat pintu, jendela, dan celah rumah.
  • Menyimpan makanan di tempat yang tidak mudah dijangkau.
  • Mengawasi anak-anak saat bermain di luar rumah.
  • Tidak mendekati atau memprovokasi satwa apabila bertemu secara langsung.
  • Segera melapor kepada petugas apabila monyet kembali terlihat atau bertindak agresif.

Sumber:

  • Keterangan Polres Siak dan laporan penanganan korban (kasus serangan monyet di Tembilahan/Indragiri Hilir, Juli 2026).
  • Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) mengenai perilaku monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) dan mitigasi konflik manusia–satwa.
  • Dokumentasi video warga yang beredar di media sosial.

Catatan Redaksi: Artikel ini disusun berdasarkan laporan warga, keterangan resmi yang tersedia, dan dokumentasi video yang beredar. Penyebutan “diduga” digunakan pada informasi yang belum ditetapkan melalui hasil investigasi resmi.

Berita Selanjutnya Tersentuh kisah Hanif, DPD NasDem Sijunjung sambangi balita penderita Hidrosefalus di Padang.
›

Berita Terkait

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama menanggapi berita ini.

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *